Rabu, 11 Juni 2008

LANGKAH PRAKTIS MEMBELI RUMAH

LANGKAH PRAKTIS MEMBELI RUMAH
Oleh: Mike Rini

Dikutip dari Danareksa.com

Ketika Anda berencana membeli rumah tentunya Anda mengharapkan hasil yang terbaik sesuai dengan biaya yang akan dikeluarkan. Karena itu sebelum Anda mulai melihat-lihat calon-calon rumah Anda, sebaiknya Anda membuat daftar prioritas yang dinginkan dari rumah yang akan dibeli seperti jumlah kamar tidur, kamar mandi, halaman, garasi, kondisi atap, dinding, dan lain-lain. Kemudian buat juga daftar fasilitas – falitas umum yang nanti Anda butuhkan, seperti PAM, listrik, jalan umum, kebersihan, rumah ibadah, sekolah, pasar dan lain-lain.

Tambahkan lagi daftar tersebut dengan persyaratan lainnya seperti bebas banjir, sertifikat rumah lengkap dan tidak dalam sengketa apapun. Wah.. PRnya banyak nih ! Iya dong kita kan mau beli rumah bukan beli masalah.

Menentukan berapa kesanggupan Anda dalam membiayai rumah
Tiap orang akan mempunyai jawaban yang berbeda – beda untuk pernyataan tersebut. Tetapi tentunya Anda yang paling tahu seberapa besar kesanggupan anda. Kuncinya adalah membeli rumah baik seharusnya lebih membuat hidup Anda lebih sejahtera. Jangan sampai karena pembelian rumah ini malah membuat Anda mengalami penurunan standar dan gaya hidup serta tidak tercapainya tujuan keuangan lainnya di masa depan. Untuk mengetahuinya maka buatlah suatu neraca keuangan keluarga untuk mengetahui harta tunai anda yang likuid yang siap digunakan untuk membiayai pembelian rumah. Harta tunai Anda yang likuid maksudnya adalah sejumlah dana menganggur Anda di Tabungan, deposito atau ditempat lainnya yang dapat diambil kapan saja.

Sejumlah dana tunai memang harus tersedia dalam proses pembelian rumah walaupun Anda membelinya secara kredit. Sebab, pada umumnya transaksi pembelian rumah dengan kredit rumah dibagi dalam 2 tahap yaitu didahului dengan pembayaran uang muka rumah, pihak penjual akan meminta uang muka dari Anda, besarnya bervariasi biasanya paling banyak sebesar 30% saja dari harga rumah.Sisanya barulah dibiayai olek kredit rumah.

Buatlah juga sebuah arus kas pribadi yang terdiri dari penghasilan serta pengeluaran rutin Anda. Arus kas pribadi ini berguna untuk menghitung berapa besar sisa penghasilan Anda yang sanggup disisihkan untuk membiayai rumah, jika pembelian rumah dibiayai dengan kredit rumah.

Putuskan rumah seperti apa yang Anda inginkan
Ketika Anda berencana membeli rumah tentunya Anda mengharapkan hasil yang terbaik sesuai dengan biaya yang akan dikeluarkan. Karena itu sebelum Anda mulai melihat-lihat calon-calon rumah Anda, sebaiknya Anda membuat daftar prioritas yang dinginkan dari rumah yang akan dibeli seperti jumlah kamar tidur, kamar mandi, halaman, garasi, kondisi atap, dinding, dan lain-lain. Kemudian buat juga daftar fasilitas – fasilitas umum yang nanti Anda butuhkan, seperti PAM, listrik, jalan umum, kebersihan, rumah ibadah, sekolah, pasar dan lain-lain. Tambahkan lagi daftar tersebut dengan persyaratan lainnya seperti bebas banjir, sertifikat rumah lengkap dan tidak dalam sengketa apapun.

Datanglah ke berbagai pameran property
Disana Anda bisa mendapatkan banyak sekali informasi rumah dari para tenaga penjual yang siap membantu Anda, dan biasanya ditawarkan dengan harga miring atau potongan diskon.. Sebaiknya Anda jangan langsung percaya dengan gambaran kondisi rumah yang tertera pada brosur penjualan atau seperti yang dipajang pada miniatur bangunan rumah yang akan dijual dipameran tersebut, tetapi Anda harus cocokkan informasi yang diberikan dengan kunjungan langsung ke lokasi. Jika memungkinkan buatlah foto-foto sendiri dengan demikian anda akan memperoleh informasi yang sebenar-benarnya dari rumah tersebut. Kumpulkanlah berbagai informasi antara 3 sampai 5 rumah pada lokasi yang diinginkan dari berbagai pengembang, lebih banyak lebih baik dan bandinganlah satu sama lain. Dari informasi tersebut Anda dapat memiliki patokan atau gambaran rumah yang terbaik untuk Anda.

Mempersiapkan sejumlah dana tunai untuk muka rumah dan biaya – biaya lainnya
Sejumlah dana tunai juga sebaiknya dicadangkan untuk mengantisipasi terjadinya biaya – biaya pembelian rumah antara lain uang tanda jadi atau booking fee, uang muka, akte jual beli, biaya balik nama sertifikat dan biaya jasa notaris dan lain sebagainya. Jika pembelian rumah dibiayai dengan kredit dari bank sebaiknya dipersiapkan pula dana tunai untuk biaya administrasi dan provisi pengikatan kredit, biaya jasa notaris, asuransi kebakaran dan asuransi jiwa. Selain pertimbangkan juga untuk menyiapkan biaya pindah rumahnya, kemudian isi rumahnya. Walaupun pembelian isi rumah bisa dilakukan bertahap sesuai dengan tersedianya dana, namun seminim-minimya dana Anda jika telah terkuras akibat biaya-biaya tadi, paling tidak masih punya cukup uang untuk memasang tirai atau gorden.

Mencari sumber dana atau sumber pembiayaan
Membeli rumah bisa dilakukan dengan 2 cara yaitu secara tunai dan kredit atau kombinasi dari keduanya. Jika Anda ingin membeli rumah secara tunai, Anda dapat menyiapkan dananya dengan beberapa cara seperti menabung secara rutin atau melakukan investasi. Sehingga akumulasi dana hasil menabung atau hasil keuntungan investasi bisa digunakan untuk membeli rumah.

Keuntungannya dengan membeli rumah secara tunai, maka Anda tidak perlu tergantung dari pihak lain dan yang paling menyenangkan adalah anda bebas dari kewajiban membayar cicilan bulanan. Hanya saja mungkin akan memerlukan waktu yang cukup lama sampai tercapai sejumlah dana yang Anda perlukan untuk membeli rumah.

Dengan mahalnya harga rumah saat ini, beberapa dari Anda mungkin kesulitan dalam menyediakan dana tunai pembelian rumah. Anda tetap bisa beli rumah dengan cara mengajukan kredit ke Bank. Pada umumnya dana kredit yang bisa diberikan oleh bank adalah maksimal sebesar 70 % saja dari harga rumah yang akan dibeli, sisanya sebesar 30% harus dibiayai sendiri dan dianggap sebagai uang muka rumah.

Jika Anda ingin membeli rumah dengan cara mengkredit maka Anda harus memperkirakan sebelumnya berapa penghasilan Anda yang bisa disisihkan untuk membayar cicilan rumah. Tentunya penghasilan Anda per bulan setelah dikurangi biaya – biaya rumah tangga dan hutang pada pihak lain, seharusnya masih cukup untuk membayar cicilan rumah. Idealnya cicilan kredit rumah Anda besarnya tidak lebih dari 30% dari penghasilan Anda sehingga sisa 70%nya bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup lainnya.

Periksalah kewajiban –kewajiban pada pihak lain atau hutang Anda sebelum mengajukan kredit ke Bank
Bank memiliki analisa sendiri dan sumber informasi yang dapat dipercaya untuk mengetahui gambaran kondisi keuangan Anda. Karena itu sebelum mengajukan kredit ke Bank, periksalah kembali hutang – hutang Anda lainnya. Cicilan kartu kredit, cicilan motor, cicilan mobil dan lain- lain.

Apakah Anda memiliki kredit macet pada pihak lain, kapan jatuh tempo terakhir masing – masing cicilan hutang anda. Jika Anda memiliki lebih dari satu kartu kredit, tetapi yang aktif hanya satu maka kartu kredit yang tidak aktif sebaiknya ditutup. Ini untuk mencegah bank, agar tidak memasukkan kartu kredit yang tidak aktif tersebut sebagai hutang Anda, karena sebenarnya Anda belum menggunakannya.

Tips Tawar menawar harga rumah

Bangunan baru seperti rumah, flat, atau apartemen bisanya ditawarkan dengan harga pas dari developer Untuk rumah second biasanya terbuka untuk tawar menawar harga. Ada beberapa informasi yang sebaiknya Anda dapat sebelum mengajukan penawaran :
- Harga rumah yang ditawarkan penjual apakah sama dengan yang ditawarkan untuk rumah lain dengan kondisi yang sama diwilayah tersebut
- Kondisi rumah, apakah perlu perbaikan tambahan atau tidak.
- Sudah berapa lama rumah tersebut ditawarkan untuk dijual,
jika sudah ditawarkan selama beberapa waktu lalu si penjual mungkin akan semakin ingin menjual rumahnya sehingga mungkin Anda lebih dapat menekan harga. Tanyakanlah kepada tetangga sekitar rumah mengenai pasaran harga rumah dikawasan tersebut, dari mereka mungkin saja dapat diketahui mengapa rumah tersebut mau dijual, sehingga dari informasi-informasi tersebut Anda akan mendapatkan harga beli yang terbaik untuk rumah tersebut.

Senin, 09 Juni 2008

BERAPA BANYAK KARTU KREDIT ANDA

artikel ini diambil dari www.perencanakeuangan.com

BERAPA BANYAK KARTU KREDIT ANDA?
Oleh: Eko Endarto



Dikutip dari Kontan, Februari 2008

Buka dompet Anda, perhatikan dengan teliti, berapa banyak kartu kredit yang Anda miliki ? saya pernah sedikit mengintip kartu kredit yang dimiliki oleh seorang ibu di kasir salah satu hypermarket di Jakarta, saya cukup terkesima, si ibu memiliki minimal 6 buah kartu kredit diluar kartu debit.

Bagaimana saya bisa tahu ? mungkin itu pertanyaan Anda. Gampang, coba perhatikan. Kartu kredit dari perusahaan penerbit yang sama, biasanya memiliki corak yang sama pula, dan umumnya berasal dari perusahaan jaringan yang sama pula yaitu Visa dan Master. Ibu yang saya ceritakan di atas tadi memiliki 3 pasang kartu yang coraknya sama; berarti dia memiliki minimal 3 pasang kartu keluaran visa dan master. Gampang kan ?

Memiliki Kartu Kredit

Harus diakui bahwa saat ini memiliki kartu kredit bukan lagi sesuatu yang luar biasa. Coba Anda berjalan ke salah satu pusat perbelanjaan, maka akan Anda temui banyak sekali tawaran kepemilikan kartu kredit. Syaratnyapun makin mudah dan makin mungkin pula semua orang memilikinya. Pada dasarnya memiliki kartu kredit penting. Apalagi kedepannya kemungkinan semua transaksi tidak lagi dilakukan secara tunai. Sebab kita semua juga tahu, bagaimana tidak amannya saat ini bila membawa uang dalam jumlah besar. Belum lagi dengan makin banyaknya modus kejahatan “pintar” seperti pemalsuan uang. Selain keselamatan, melakukan transaksi secara digital dan tidak langsung dengan fisik uang juga lebih hemat. Kenapa ? sebab bertransaksi dengan cara digital tadi membuat kita bisa membayar sesuai dengan tagihan yang tertera di meja kasir. Sebab saat ini jangan heran bila harga suatu barang setelah transaksi menjadi “ganjil”. Misalnya Anda membali farfum seharga Rp.150.000,- dan setelah diskon, kemudian tambahan pajak dan lainnya menjadi seharga Rp.122.277,-. Bayangkan alangkah sulitnya menyiapkan uang senilai di atas.

Apapun bentuk kartu kredit, fungsi dasarnya adalah sama yaitu memberikan kita fasilitas untuk menggunakan hak, dan menjalankan kewajiban kemudian. Dan bagusnya lagi, kewajiban itu bisa di cicil atau dibayar secara bertahap. Tapi tentu saja dikenakan kompensasi berupa bunga.

Jadi kalau kita tahu fungsinya,maka seharusnya kita bisa menggunakan kartu itu secara bijak yaitu gunakan bila Anda sudah memiliki uangnya; artinya sebelum menggunakan pastikan Anda memiliki uang untuk membayarnya saat ditagih.misalnya saja Anda memiliki deposito yang siap dicairkan bila tagihan datang. Kedua gunakan bila Anda yakin bisa membayarnya. Misalnya Gaji Anda harus cukup untuk membayarnya, pembayaran proyek atau pekerjaan tertentu yang sebagian dananya digunakan untuk pembayaran kartu dan sebagainya. Jadi kalau Anda sudah menggesek kartu , pastikan pembayaran kartu sebagai prioritas. Jangan hanya 10%, kalau bisa lunas atau minimal 30%-nya.

Kegunaan dan berapa Banyaknya

Kita sudah membahas apa yang sebaiknya kita lakukan dengan kartu kita. Dan kita juga telah tahu bahwa pada dasarnya kartu kredit itu sama saja yaitu memberikan fasilitas bukan tambahan uang. Jadi gunakan bila punya uang untuk menggantinya atau yakin bahwa akan ada uang untuk membayarnya minimal 30%.

Jadi dengan demikian kita tahu bahwa kegunaannya adalah untuk mebayar kewajiban kita. Maka saran saya gunakanlah untuk hal itu. Yaitu mambayar semua kebutuhan kita. Jadi bila memang kebutuhan pembayaran Anda ter”cover” hanya dengan satu kartu nda masalah. Artinya gunakan saja hanya 1 kartu untuk belanja, membayar tagihan, asuransi, dana cadangan dan sebagainya. Tapi kalau Anda merasa bahwa Anda butuh lebih dari hanya sekedar 1 kartu untuk transaksi misalnya saja Anda menggunakan kartu kredit A untuk belanja, kartu kredit B untuk pembayaran tagihan-tagihan, kartu kredit C untuk pembayaran asuransi, dan kartu kredit D untuk cadangan dan seterusnya, maka boleh juga Anda lakukan. Tapi saya hanya ingatkan, makin banyak kartu Anda akan makin besar beban biaya administrasi yang harus ditanggung, dan pastinya juga akan membuat lebih besar godaan untuk menggunakannya.

Jadi berapa banyak sih sebaiknya kita memiliki kartu kredit ?

Sekali lagi tidak ada angka pasti. Tapi kalau saya boleh berikan saran, maksimal miliki 3 kartu Yaitu : Satu kartu digunakan sebagai fasilitas untuk belanja dan kebutuhan konsumsi (misalnya untuk belanja bulanan, pembelian barang konsumtif dan sebaginya).

Satu kartu digunakan untuk tagihan kewajiban rutin baik itu biaya maupun investasi/proteksi (misalnya untuk bayar listrik, PAM, internet, telpon dsb).

Satu kartu digunakan untuk fasilitas dana cadangan artinya sebagai sarana pembayaran sebelum dana Anda bisa dicairkan dari deposito.

Jadi cukup 3, jangan lebih.

Salam.
Eko Endarto
Perencana Keuangan

BERKELIT DARI RISIKO DENGAN ASURANSI

artikel ini diambil dari www.perencanakeuangan.com

BERKELIT DARI RISIKO DENGAN ASURANSI

Oleh: Safir Senduk

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 1028/XVIII


Salah satu konsekuensi dari pekerjaan saya sehari-hari adalah diminta memberikan seminar tentang perencanaan keuangan, di Jakarta maupun luar Jakarta. Dalam proses di perjalanan menuju tempat seminar, baik lewat darat maupun lewat udara, saya seringkali berpikir bahwa kadang-kadang kematian bisa sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Suatu hari, misalnya, saya harus memberikan seminar di Kolaka, tepatnya 3 jam jalan darat sebelah barat Kendari, ibukota Sulawesi Tenggara. Nah, untuk mencapai Kendari, saya harus naik pesawat dari Jakarta menuju Makassar yang lama perjalanannya sekitar 2 jam, kemudian dari situ saya harus berganti pesawat dan terbang lagi selama 1 jam ke timur, barulah saya akan mendarat di Kendari.

Semuanya lancar-lancar saja, sampai 8 hari kemudian saya mendapat kabar bahwa pesawat yang sama seperti yang mengangkut saya, dengan jalur Makassar – Kendari, tergelincir di landas pacu bandara di Makassar karena pecah ban. Dan peristiwa itu terjadi pada hari minggu, hari yang sama seperti penerbangan saya seminggu sebelumnya.

Di Jakarta misalnya, kalau kita menyempatkan diri naik angkutan umum, bukan satu dua kali saya menemukan banyaknya pengemudi angkutan umum yang menyetir gila-gilaan sehingga membahayakan penumpang maupun pengendara lain.

Dari pemaparan tersebut tergambar, yang namanya risiko ternyata sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Risiko apa? Wah, macam-macam. Di atas tadi adalah risiko-risiko yang bisa mengancam jiwa kita. Tapi selain itu, ada juga sih risiko yang bisa mengancam kesehatan kita, seperti sakit. Sakit itu menyebalkan, bukan? Mau kerja tidak bisa, tapi senang-senang juga tak bisa. Belum lagi kalau gara-gara sakit itu kita mesti bayar dokter, obat, bahkan rumah sakit.

Jadi, risiko itu sangat dekat dengan hidup kita sehari-hari. Ada 5 jenis risiko yang paling sering terjadi:
1. Kematian
2. Kecelakaan
3. Sakit
4. Musibah pada Properti (Rumah dan Kendaraan),
5. PHK (kalau Anda karyawan), dan Kebangkrutan (kalau Anda pengusaha)

Profesi ibu rumah tangga pun tak luput dari risiko, lho. Sepanjang Anda masih disebut ‘manusia’, Anda tetap punya kemungkinan mengalami risiko-risiko tadi. Bahkan jangan lupa, kalaupun Anda seorang ibu rumah tangga, tapi toh di sini seringkali suami Andalah yang memberi nafkah di keluarga kan? Sekarang bayangkan, apa yang terjadi kalau terjadi apa-apa pada suami Anda? Kalau Anda sakit misalnya, maka tugas sebagai ibu rumah tangga yang biasa Anda lakoni mungkin akan terbengkalai. Tapi kalau suami yang mengalami sakit, itu berarti dia bakal tidak masuk kerja. Di beberapa kantor, kalau tidak masuk kerja lebih dari sekian hari, bisa-bisa dipotong gajinya.

Jadi jangan merasa bahwa risiko-risiko di atas tadi tidak akan terjadi pada Anda. Anda bisa tetap mengalami risiko itu, tapi suami Anda mungkin akan lebih besar lagi kemungkinannya.

Pentingnya Proteksi

Banyak diantara kita yang tidak suka risiko. Tapi masalahnya, risiko mengintai tanpa kita minta. Setiap kali Anda bepergian, misalnya, pasti ada saja risiko kecelakaan yang mengancam. Setiap saat umur Anda pun bisa dipanggil Tuhan, bahkan dalam tidur sekalipun. Bahkan rumah Anda pun juga bisa kebakaran. Jadi mesti tak suka, kita selalu hidup berdampingan dengan risiko.

Nah, di sinilah perlunya proteksi. Maksudnya, apapun yang Anda lakukan, Anda harus selalu punya proteksi. Arti proteksi adalah bahwa kalau terjadi risiko pada Anda, Anda atau keluarga Anda sudah siap untuk membayar konsekuensinya yang biasanya membutuhkan uang.

Contohnya, jika Anda meninggal, maka pasangan Anda akan mendapatkan penggantian uang yang bisa digunakan oleh keluarga Anda untuk membayari kebutuhan pemakaman dan hidup keluarga Anda ke depan. Itulah proteksi. Jadi, jika Anda meninggal, maka Anda enggak akan menyusahkan orang.

Nah, salah satu proteksi yang bisa Anda lakukan adalah dengan mengambil asuransi. Prinsip asuransi sebenarnya sederhana, dimana Anda mengikat janji/kontrak dengan pihak ketiga (dalam hal ini perusahaan asuransi), dimana di kontrak itu tertulis bahwa kalau Anda mengalami risiko - yang disebutkan di dalam kontrak itu – maka Anda akan mendapatkan uang penggantian yang sering disebut dengan nama Uang Pertanggungan.

Untuk bisa membuat kontrak itu berjalan, Anda harus membayar sejumlah iuran tertentu yang disebut premi, dimana ujung-ujungnya, kalau terjadi musibah, maka premi yang Anda bayarkan akan jauh lebih murah dibanding ganti rugi yang Anda dapatkan.

Ada 3 asuransi yang sebaiknya Anda ambil:
1. Asuransi Jiwa, yang siap memberikan penggantian kalau terjadi risiko kematian pada Anda.
2. Asuransi Kesehatan, yang bakal memberikan penggantian kalau terjadi risiko sakit pada Anda dan Anda harus dirawat inap atau rawat jalan.
3. Asuransi Kerugian, yang akan memberikan penggantian kalau terjadi musibah pada barang-barang milik Anda seperti kebakaran pada rumah atau kecelakaan pada mobil/motor Anda.

Jadi, mau nunggu apa lagi? Segera hitung ulang keadaan keuangan Anda saat ini, dan coba pertimbangkan untuk ambil asuransi. Jangan sampai terjadi risiko dulu, baru menyesalnya belakangan. Amit-amit deh.

Salam.
Safir Senduk
Perencana Keuangan

Selasa, 22 April 2008

tradisional atau unit link

Asuransi Tradisional atau Unit Link?

Sebenarnya memilih beli asuransi tradisional atau unit link itu gampang aja kok. tinggal sesuaiin sama kebutuhan kita. kalo anda masih muda, saya sarankan ambil unit link. tapi kalo anda berusia di atas 50 tahun, mendingan ambil asuransi tradisional agar proteksi bisa maksimal.
salam,
 

Selasa, 01 April 2008

3 Kunci Keberhasilan

 3 Kunci Keberhasilan


1) Setting Goals.

Menetapkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Melihat gambaran yang jelas tentang hal-hal yang ingin dicapai di masa depan. Tujuan harus dibuat secara tertulis agar pikiran sadar dan bawah sadar kita bergerak serta menggerakkan diri kita dan diluar diri kita untuk mencapai apapun yang kita inginkan.

2) Personal Development.
Secara aktif dan konsisten berupaya selalu membuat diri kita lebih daripada orang lain melalui pengembangan diri pribadi. Buat standar waktu minimum untuk membaca buku-buku, mendengarkan cd atau kase! t, menghadiri seminar serta berkumpul dengan orang-orang yang lebih sukses dari kita. Kita akan menjadi seperti apa yang kita baca, yang kita dengar dan yang kita pikirkan.

3) Financial Planning.
Buat rencana 70/30. Bila kita mendapatkan penghasilan, aturlah penghasilan tersebut sebagai berikut 10% untuk tabungan, 10% untuk investasi dan 10% untuk sedekah. Lakukan rencana tersebut dan hidup kita akan jauh menjadi lebih baik dan penuh dengan keberkahan. Yakinlah!

Selasa, 04 Maret 2008

Perencanaan keuangan? Sebenernya sederhana aja kok

Secara sederhana, ada beberapa poin utama dari perencanaan keuangan:
  1. Alokasi kredit/utang sekitar 30% atau 1/3 dari pemasukan bulanan.
  2. Alokasi tabungan/investasi 10%-30% dari pemasukan bulanan (untuk mencapai tujuan-tujuan finansial kita: dana pensiun, pendidikan anak, perjalanan ibadah, membeli rumah, kendaraan bermotor, liburan, dsb.).
  3. Sisa pemasukan bulanan bisa digunakan untuk memenuhi biaya hidup dan lifestyle.
  4. Miliki dana darurat/cadangan yang besarnya berkisar antara 3-12 kali pengeluaran bulanan, bergantung pada kondisi kita masing-masing (lajang, menikah tanpa anak, menikah dan sudah memiliki anak, penghasilan tetap, penghasilan tidak tetap, dll.).
  5. Miliki asuransi untuk melindungi kita dari resiko-resiko yang mungkin mengacaukan kondisi keuangan kita.
Salam sukses!

Secara sederhana, ada beberapa poin utama dari perencanaan keuangan:
  1. Alokasi kredit/utang sekitar 30% atau 1/3 dari pemasukan bulanan.
  2. Alokasi tabungan/investasi 10%-30% dari pemasukan bulanan (untuk mencapai tujuan-tujuan finansial kita: dana pensiun, pendidikan anak, perjalanan ibadah, membeli rumah, kendaraan bermotor, liburan, dsb.).
  3. Sisa pemasukan bulanan bisa digunakan untuk memenuhi biaya hidup dan lifestyle.
  4. Miliki dana darurat/cadangan yang besarnya berkisar antara 3-12 kali pengeluaran bulanan, bergantung pada kondisi kita masing-masing (lajang, menikah tanpa anak, menikah dan sudah memiliki anak, penghasilan tetap, penghasilan tidak tetap, dll.).
  5. Miliki asuransi untuk melindungi kita dari resiko-resiko yang mungkin mengacaukan kondisi keuangan kita.
Salam sukses!